Menu
 


Sugeng, Perajin Kaki Palsu yang Jadi Bintang Iklan
Tambah Penghasilan, Tak Gengsi Tetap Jadi Loper Susu
Nama Sugeng, sudah sangat dikenal. Sebagai perajin kaki palsu di Kauman, Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto, namanya kerap mewarnai berbagai media massa. Belakangan, dia bahkan kerap terlihat menghiasi layar kaca. Selain sebagai bintang tamu, juga sebagai bintang iklan.
ABI MUKHLISIN, Mojokerto
KOMENDAN, demikian Sugeng biasa dipanggil. Pria yang bernama panjang Sugeng Siswoyudono itu kini pantas berbangga. Kalau dulu, dia hanya dikenal sebagai perajin kaki palsu dengan rasa sosial tinggi, sekarang berhasil membintangi iklan salah satu produk minuman suplemen penambah stamina merek Kuku Bima.
Siang itu, dia terlihat sibuk membimbing pasiennya berjalan menggunakan kaki palsu buatannya. Dengan ketelatenan yang dimiliki, pasien yang datang dari Cepu itu pun mengalami kemajuan. Hanya sesekali, dia harus mengangkat ponsel menerima telepon dari pasien lainnya. Maklum, selain pasien datang ke rumahnya, juga ada pasien yang memesan.
Sugeng tetap dengan kesederhanaannya. Seperti sebelum dia membintangi iklan. Rambut gondrong tak beraturan, selalu mengenakan topi warna merah dan bicaranya yang ceplas-ceplos. Karena waktunya bekerja, saat itu, dia hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek menutupi lutut. Sehingga, nampak jelas kaki palsu yang dipakainya.
"Ya bangga, bisa untuk biaya anak sekolah," ungkapnya saat ditemui di rumahnya yang menghadap ke selatan. Memang, sejak namanya dikenal, pesanan kaki palsu terus berdatangan. Bahkan, dalam sebulan, rata-rata dua sampai tiga kali ke luar kota melayani pasien.
Belum lagi, harus syuting iklan maupun wawancara di layar televisi. Berkat kegetolannya berpikir mengembangkan keahliannya itu, Sugeng sekarang menuai hasilnya.
Meskipun telah membintangi iklan, dia mengaku tidak berubah. Selain bertekad mengembangkan kerajinan kaki palsu dengan memutar otak mencari inspirasi baru untuk mendukung produknya, dia juga tetap melakukan aktivitasnya sebagai peloper susu.
Setiap pagi, pria kelahiran Baturaja, 3 Juni 1962 yang sudah dikaruniai empat orang anak, satu meninggal tersebut setiap pagi harus mengantar susu. Dimulai pukul 05.30, dengan bantuan kaki palsu, dia bersepeda motor ke Pacet mengambil susu. Selanjutnya, susu tersebut diantar ke warung langganannya. "Kalau loper susu ini sudah sejak lulus SMA," katanya.
Dia mengaku tidak pernah merasa gengsi. "Kenapa gengsi?" ungkapnya. Memang, dia sudah cukup dikenal telah membintangi iklan. Termasuk, para tetangga sekitarnya. Bahkan, dia sesekali dipanggil dengan meminjam istilah dalam iklan yang dibintanginya. "Saya tetap loper susu sampai sekarang. Kalau saya ke luar kota, ya biasanya dilaksanakan anak saya," katanya.
Dari pengalamannya syuting iklan itu, dia merasakan bagaimana capeknya. Meskipun tidur dihotel, namun dia tak bisa berkumpul dengan keluarga. "Syuting itu sehari penuh, sampai pukul 12.00 malam," ungkapnya mengenang menjalani syuting pertamanya sembari tertawa.
Meskipun capek, namun dia tetap senang. Selain mendapatkan tambahan penghasilan, juga cocok dengan pihak yang memberikan job. Sama-sama mempunyai kepedulian terhadap sesama. Bahkan, dia sempat diajak road show produsen minuman penambah stamina itu ke penderita gizi buruk. (yr)

Post a Comment

 
Top