Friday, September 5, 2008

SMKN Jatirejo Ambruk

0 komentar
Radar Mojokerto
[ Jum'at, 05 September 2008 ]
Atap Laboratorium SMKN 1 Jatirejo Ambruk
Tidak Ada Korban Jiwa, karena Gedung Kosong

JATIREJO - Peristiwa mengagetkan warga sekitar SMKN 1 Jatirejo, Kabupaten Mojokerto terjadi Rabu (3/9) petang. Karena sebagian atap gedung laboratorium tata busana SMKN 1 Jatirejo ambruk, sehingga menimbulkan suara reruntuhan.

Informasi yang dihimpun koran ini dari warga sekitar mengungkapkan, sore itu menjelang berbuka puasa terdengar suara reruntuhan dari Kompleks SMKN 1 Jatirejo. Warga pun bergegas menuju sekolah tersebut, dan mendapati sebagian atap bangunan ambruk. Beruntung, pada saat itu tidak ada siswa yang berada di bangunan tersebut, karena sudah sore dan sudah pulang.

Berdasarkan pengamatan koran ini di lokasi kejadian, sebagian genting bangunan untuk laboratorium tata busana ini ambruk ke tanah. Tampaknya, kayu usuk dan rengnya tidak mampu menahan beban berat genting, sehingga atapnya ikut ambruk.

Beruntung, di dalam bangunan ini tidak banyak peralatan belajar siswa seperti mesin jahit atau alat-alat untuk kegiatan tata busana lain. Sebab, peralatan ini masih berada di ruang lain yang berdampingan dengan ruang kepala sekolah. Sehingga, kerugian materiil masih bisa diminimalisasi.

Kapala SMKN 1 Jatirejo M. Sarmadan enggan berkomentar terhadap kejadian ini. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Kasi Sarana dan Prasarana Subdin Dikmenjur Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Suprapti. ''Biar Bu Prapti saja yang menjelaskan,'' kata Sarmadan.

Sementara itu, Suprapti yang kemarin siang juga meninjau langsung kondisi ini menjelaskan, pembangunan laboratorium tata busana ini merupakan proyek block grand dari Depdiknas 2006. Untuk pengerjaannya dilakukan secara swakelola oleh pihak sekolah. Total anggarannya mencapai Rp 700 juta. Namun, dana ini tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan laboratorium tata busana, tetapi juga untuk laboratorium otomotif dan lainnya.

''Nah, untuk bangunan laboratorium tata busana ini kan berbeda dengan bangunan laboratorium lain. Ini yang kurang diantisipasi pihak pemborong,'' ujar Suprapti.

Perbedaan itu, kata Suprapti, terutama pada lebar bangunan yang mencapai lebih dari 12 meter. Sehingga, gedung ini tampak gemuk dibandingkan dengan gedung dan bangunan lain yang lebarnya kurang dari 10 meter. ''Tampaknya perbedaan lebar bangunan ini yang kurang diantisipasi oleh pihak yang mengerjakan proyek,'' ungkap Suprapti.

Ukuran ini, kata Suprapti, sudah merupakan standar laboratorium untuk tata busana. Sehingga, pihaknya tidak bisa mengubah ukuran seperti laboratorium lainnya. ''Besteknya seperti itu,'' ujarnya.

Lantas, apa yang akan dilakukan Dinas Pendidikan terhadap kondisi ini? Suprapti menjelaskan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. ''Kita akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi. Yang pasti, kita akan segera memperbaiki,'' katanya. (in/ris/yr)
Read full story

Thursday, September 4, 2008

Polisi Tertibkan Sirtu Kunjorowesi

0 komentar

Radar Mojokerto 
[ Kamis, 04 September 2008 ] 
Polisi Tertibkan Sirtu Kunjorowesi 
Saat Eksekusi, Sempat Terjadi Bentrok 

NGORO - Penambangan pasir dan batu (sirtu) tidak berizin di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, kemarin didatangi petugas Polres Mojokerto. Penertiban kali ini melibatkan puluhan personel gabungan dari Satreskrim, Satresmob dan Samapta. Operasi dengan kekuatan besar itu mendapat perlawanan dari warga setempat. Bahkan, nyaris terjadi bentrok, saat petugas akan mengeksekusi penyitaan alat berat (beckhoe).

Sekitar pukul 11.00, petugas gabungan sudah bergerak ke lokasi. Rombongan terdiri atas dua truk Dalmas dan tujuh mobil reserse yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Kusworo Wibowo. Bahkan, satu unit truk pengangkut alat berat juga dikerahkan untuk evakuasi beckhoe. 

Sayangnya, kedatangan petugas disinyalir sudah tercium. Karena saat digerebek, di TKP sedang tidak ada kegiatan. Dua unit beckhoe tampak menganggur. Sedangkan puluhan pekerjanya hanya duduk-duduk. Padahal, petugas bisa langsung menyita alat-alat penggalian sirtu tak berizin tersebut, jika sedang ada aktivitas. 

Hal itu membuat petugas harus bekerja ekstra, dengan memintai keterangan sejumlah pekerja. Mereka mengaku, hingga dua hari lalu, beckhoe memang masih beroperasi. Entah apa sebabnya, dua hari ini beckhoe tidak dioperasikan. Begitu pula saat polisi datang, para pekerja sedang beristirahat. Hanya satu dua orang yang masih meneruskan pekerjaannya memecah batu.

Saat petugas -yang berseragam maupun berpakaian preman- berjaga di lokasi, suasana mulai memanas. Semakin banyak warga dan pekerja yang berdatangan ke lokasi. Mereka terkonsentrasi di beberapa sisi TKP. Beberapa warga lantas melontarkan perkataan yang bernada provokasi. Intinya, untuk mengusir polisi yang berniat mengusik mata pencarian mereka. 

Provokasi itu berhasil memantik emosi warga lainnya. Teriakan-teriakan untuk melawan polisi pun terus dilontarkan. Bahkan, beberapa kali warga melempari batu besar ke arah truk pengangkut sirtu yang sedang parkir.

Situasi memanas ini tak kunjung reda. Di jalan masuk ke galian, beberapa warga juga terkonsentrasi di sana. Mereka meletakkan beberapa kayu gelondongan di tengah jalan sebagai bentuk sabotase terhadap polisi. Hingga akhirnya saat petugas memutuskan untuk menyita dua unit beckhoe, suasana semakin memanas. 

Nyaris saja terjadi bentrok, saat warga bergerombol di jalan masuk dan siap untuk menghadang polisi. Hal ini lagi-lagi memaksa polisi untuk melakukan negosiasi. Akhirnya, dua unit beckhoe tersebut urung disita.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Kusworo Wibowo mengatakan, untuk menghindari bentrokan, pihaknya terpaksa melakukan negosiasi. Eksekusi penyitaan beckhoe urung dilakukan. Namun, pihak pemilik sudah menyanggupi akan mengantarkan sendiri beckhoe tersebut ke mapolres. ''Pemiliknya sendiri yang akan mengantarkan. Kemungkinan sore ini (kemarin, Red). Meskipun suasana sempat memanas, namun Alhamdulilah bisa kita netralisasi!" tegas AKP Kusworo saat ditemui di mapolres usai proses penertiban. (doy/yr)
Read full story

Imam Mas Wahyudi, 40 Tahun, Diinggapi Tumor di Pantatnya

0 komentar
Radar Mojokerto 
[ Sabtu, 26 Juli 2008 ] 
Imam Mas Wahyudi, 40 Tahun, Diinggapi Tumor di Pantatnya 

Tak Pernah Dioperasi, Pertumbuhan Kaki Terganggu dan Tak Bisa Jalan 


Sejak dilahirkan hingga sekarang, laki-laki kelahiran 25 Maret 1968 ini tak pernah merasakan berjalan sendiri. Pertumbuhan kakinya mengalami gangguan akibat tumor di pantat yang dideritanya. Kini, kedua tangan dan sepeda butut hasil modifikasinya yang tetap setia membantunya. 

ABI MUKHLISIN, Mojosari 

------------------------------------------------------------- 

DI rumahnya yang sederhana di Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Imam, panggilan akrab Imam Mas Wahyudi, sedang duduk di ruang tamu. Selama itu, dia terlihat tidak nyaman. Sekuat tenaga dia berusaha menahan tubuhnya untuk tidak bersandar di kursi. 

Kaos warna ungu yang dikenakannya terlihat tidak rapi. Selain ukurannya yang besar, juga di bagian belakang sedikit menonjol. Kaos tersebut terdorong tumor yang tumbuh di antara pinggang dan pantat. Pun karena itulah, ketika duduk, dia tidak bisa bersandar. Ada rasa sakit yang menderanya. 

Siang tampak mulai beranjak sore. Imam yang ketika itu ditemani saudara dan bapaknya masih duduk santai. ''Saya pernah sekolah di SLB Mojosari. Tapi, hanya sampai SD," ungkap Imam sembari memainkan jemarinya.

Saat dilahirkan, tumor yang diderita anak kedua pasangan Talkim, 68, dan Siti Suwarni, 60, ini tidak sebesar sekarang. Melainkan hanya benjolan kecil di pantatnya. Waktu berjalan, benjolan tersebut terus membesar. ''Dulu hanya pelenting. Kita tidak tahu itu tumor," ungkap Talkim, ayahnya yang kala itu duduk di sampingnya. 

Tak tega melihat kondisi anaknya, orang tuanya berusaha memeriksakan ke medis. Hasilnya, bak petir di siang bolong, benjolan yang semula hanya dianggap pelenting biasa, ternyata tumor. Jalan satu-satunya harus operasi. ''Kata dokter itu memang tumor. Tapi, belum dioperasi," ungkapnya. 

Haru bercampur kasihan. Mungkin suasana yang saat itu menyelimuti pasutri lima anak ini. Satu sisi, besar keinginan bisa membebaskan derita anaknya itu dengan operasi. Di sisi lain, kemampuan ekonomi tidak mampu. Talkim yang hanya bekerja sebagai tukang kayu, sudah tidak kuat. Apalagi, kondisinya sekarang yang tidak bekerja akibat sesak napas yang diderita. ''Jadi, sampai sekarang belum dioperasi. Kita tidak mempunyai uang," tuturnya. 

Sabar dan selalu berharap ada jalan keluar, terus dijalani Imam. Kini, usianya sudah 40 tahun. Dengan tumor yang masih bercokol di tubuhnya, Imam tak bisa berjalan. Kalau mau jalan-jalan, terpaksa kedua tangannya yang membawa tubuhnya. ''Kalau ingin menemui teman-teman, saya ya naik sepeda ini," kata Imam menunjuk sepeda butut hasil modifikasi dengan pengayuh di tangan. 

Tak banyak yang bisa dilakukan dengan kondisinya tersebut. Selain sekolah hanya sampai tingkat SD, dia juga tidak bisa bekerja. Tumor itu seolah yang membatasi aktivitasnya. Rasa sakit yang terus mendera, masih belum seberapa jika melihat akibat serangan tumor. Kakinya tidak bisa berjalan, karena pertumbuhannya yang terganggu. 

Sekali lagi, Imam berharap bisa operasi. Usianya yang telah 40 tahun, tak menghalanginya untuk bisa memberikan sesuatu yang berharga. Untuk keluarga dan sesama. Apalagi, melihat kondisi keluarganya. Di rumah sederhana yang berada di gang kecil Desa Jotangan itu, Imam dan kedua orang tuanya tinggal. (yr)
Read full story

Ica Sempat Berpuisi di Depan Dokter

0 komentar

RADAR MOJOKERTO Kamis, 04 Sept 2008 
 
Lubang Rongga Mulut Segera Tertutup

Ica Sempat Berpuisi di Depan Dokter
MOJOKERTO - Langit-langit mulut Ica, yang berlubang segera tertutup. Bocah 5 tahun asal Dusun Adisono Desa Lebaksono Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto itu diharapkan bisa berbicara jelas. Selain itu, makanan dan minuman yang dikonsumsinya tak lagi keluar dari hidung. 

Ica yang bernama lengkap Isaroh Anggaeni itu telah ditangani drg HR Anto Bagus P Sp Pros, kemarin. Dengan diantar seorang guru dan Ana Yuliati, ibunya, Ica mendatangi tempat praktek sekaligus rumah ahli prostodontis itu di Japan Asri Desa Japan Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. "Saya sudah membuatkan obsturator (penutup langit-langit mulut). Tak lama, Kamis sudah bisa dipasang," ungkap drg Anto Bagus di tengah menangani Ica. 

Tak hanya membuatkan penutup sintetis, namun dia juga menyatakan sanggup mengontrol terus setiap tiga bulan sekali. Bahkan, untuk menghindari penciutan pada rongga mulutnya, dia sudah menyiapkan alatnya yang dipasang pada penutup. "Kalau memang dia tambah besar, ya akan diganti. Dan, ini terus sampai dia bisa dioperasi," katanya. 

Dengan dipasang penutup itu, menurutnya, akan membantu bicara Ica dan juga makan. Sebab, dengan kondisi rongga mulut yang berlubang, membuat siswa kelas 1 SLB Mojosari ini bicara. "Setelah melihat anaknya langsung, saya semakin tergerak membantunya. Saya kasihan. Sebelumnya, saya hanya melihat gambarnya di koran," katanya. 

Saat itu, Ica terlihat duduk di samping ibunya. Dia bahkan sempat menunjukkan kemampuannya bernyanyi. "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.....," sebagian syair lagu yang dinyanyikan. Tak hanya itu, dia juga mampu berpuisi tanpa teks. Dia pun membawakan puisi berjudul Demi Waktu yang menceritakan nasibnya sepanjang mengenyam pelajaran di bangku SLB Mojosari. Meski suaranya tidak jelas, namun dia nampak sangat menghapal syair puisi itu. 

Dengan adanya uluran tangan kepada anaknya, pihak keluarga sangat bersyukur. Selain kepada drg HR Anto Bagus yang telah rela membantu menutup langit-langit mulut dan Sugeng Siswo Yudono, warga Kauman Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto yang kini tengah berusaha membuatkan kaki palsu untuk Ica. "Kami sangat berterima sekali kepada semua yang telah membantu anak kami," ungkap Ana Yuliati, ibu Ica. (abi/yr)
Read full story

Aksi siswa SLB Negeri Mojosari.

0 komentar

Aksi siswa SLB Negeri Mojosari.

25/03/2008 07:21 - Penyandang Cacat
Ratusan Penyandang Cacat Ikuti Lomba Fashion 


Liputan6.com, Mojokerto: Sekitar 150 siswa penyandang cacat di Sekolah Luar Biasa Negeri Mojosari, Mojokerto, mengikuti lomba fashion show, Senin (24/3). Para peserta yang terdiri dari penyandang cacat tuna netra, tuna grahita, tuna daksa, dan tuna wicara berlenggak-lenggok menampilkan kebolehannya. Berbagai macam busana mereka tampilkan di halaman sekolah dengan disaksikan para orangtua.

Mereka mengikuti lomba tersebut agar mampu tampil percaya diri layaknya siswa normal di sekolah dasar umum. Kebanyakan para siswa penyandang cacat mengaku senang dengan diadakanya lomba tersebut. Acara lomba busana ini baru pertama kali diadakan. Mereka berharap setiap dua tahun sekali pihak sekolah bisa mengadakan lagi dengan lebih meriah.(IAN/Bambang Ronggo)
Read full story

Muslik Pianis Tuna Netra

0 komentar

RADAR MOJOKERTO Kamis, 04 Sept 2008 
 
M. Muslik, Pianis Tunanetra yang Bergelimang Prestasi

Pernah Juara Azan, Terganjal Wakili Kabupaten karena Sekolah SLB
Kebutaan alias tunanetra, bukan halangan dan harus berpangku tangan menunggu ketentuan nasib. M. Muslik membuktikannya. Buah dari upayanya belajar, siswa SLB Mojosari asal Pandansari Desa Simbaringin Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto itu mengukir banyak prestasi. 

ABI MUKHLISIN, Mojosari 
---

DI salah satu ruangan SLB Mojosari, Muslik terlihat sibuk menata keyboard. Dari caranya membuka pembungkus alat musik itu dan pengoperasiannya, anak ketiga pasangan Waidi-Sri Mulyanti itu sudah terbiasa. Tak lama, jemarinya mulai lincah menyapa. Tak butuh waktu lama untuk memulai memainkan alat musik piano yang merupakan inventaris sekolah itu. 

Satu, dua hingga tiga kali sentuhan jemarinya yang lincah memainkan tuts-tuts piano, musik rancak berirama dangdut memenuhi ruangan itu. Keterbatasan fungsi penglihatan yang ada pada dirinya, tak sedikitpun berpengaruh. Jemarinya tetap lincah memainkan alat itu. Dia enjoy, dan bahkan menikmati sendiri hasil permainan musiknya. 

Itu nampak sekali dari badannya yang sedikit bergoyang-goyang. Melengkapi kemahirannya bermain musik, di sela-sela jari-jarinya bekerja, dia pun ikut bernyanyi. 

"Kering sudah rasanya air mataku. Terlalu banyak sudah yang tertumpah…." penggalan syair lagu Gelandangan adalah salah satu yang dinyanyikan. Dia mengaku sangat mengenang lagu itu. Sebab, lagu karya Rhoma Irama itu dipelajari waktu kali pertama dia belajar musik kepada Purnomo, kepala sekolah (Kasek) SLB Mojosari. "Selain lagu Gelandangan ini, saya masih ingat waktu itu diajari lagunya Koes Plus," ungkap Muslik yang sudah sering tampil mengiringi penampilan sejumlah penyanyi. 

Dengan kemahiran yang dimiliki, pemuda kelahiran Mojokerto 22 April 1990 itu ingin membentuk grup band. Didukung Kasek tempatnya mengais ilmu, sekarang sudah berhasil mengumpulkan beberapa orang temannya sesama tunanetra. Sesuai keahlian masing-masing, mereka siap bermain musik bareng. "Tapi, alat musiknya yang belum lengkap. Belum ada drum, bass, ritem dan kendang," katanya yang langsung diiyakan kasek.

Selain terus dibimbing Purnomo, untuk mahir bermain musik, selama ini Muslik banyak belajar dari kaset. Bermodal VCD player di rumahnya, dia selalu mendengarkan musik. 

Tak hanya lagu lagu-lagu lama, namun berkat upaya itu, dia juga menguasai lagu-lagu baru di era sekarang. Saat itu juga dia membuktikan dengan bermain musik dan menyanyikan sendiri lagu milik Letto berjudul Sebelum Cahaya. Pun, dengan lagu dan irama yang bernafaskan religi. 

Muslik bisa dibilang mutiara yang terpendang. Di balik keterbatasan yang ada pada dirinya, diam-diam memiliki banyak kelebihan. Selain mahir bermain musik, dia juga mahir berolah vokal. Tak banyak orang tahu, jika ternyata Muslik, pemuda tunanetra yang lahir dari keluarga petani ini juara I lomba azan se-Kabupaten Mojokerto untuk umum. 

Namun, keberuntungan belum berpihak. Hanya gara-gara dia SLB tidak bisa sampai ke tingkat Jatim. "Saat itu, pada tahun 2005, dia diberangkatkan sekolah untuk mengikuti lomba azan itu," ungkap Kasek SLB Mojosari, Purnomo yang siang itu terus mendampingi Muslik. 

Bahkan, tambah Purnomo, pemuda yang telah memutuskan cita-citanya menggeluti musik itu juga pandai. Pada tahun 2006, dia berhasil merebut juara I lomba IPS tingkat Jatim untuk SLB. Dia pun berhak mewakili Jatim ke arena tingkat nasional. "Tapi ternyata yang nasional gagal digelar," katanya. 

Kini, dia sedang berupaya mengasah kepandaiannya dalam mata pelajaran matematika. Dia mempersiapkan diri mewakil Kabupaten Mojokerto untuk lomba Matematika SMPLB yang bakal digelar di Malang pada tanggal 17 Maret nanti. "Di SLB ini, kepandaian Muslik, memang di atas rata-rata," katanya. Tekad Muslik sudah bulat. Tanpa harus minder dengan keterbatasan yang dimiliki, dia akan terus belajar. Belajar dan belajar. (yr)
Read full story

cak yuk pasuruan

0 komentar
Radar Bromo 
[ Kamis, 04 September 2008 ] 
Cak-Yuk Dekati Yatim 
PRIGEN - Cak dan Yuk Kabupaten Pasuruan mulai beraktivitas. Selasa (3/8), duta wisata Kabupaten Pasuruan ini menyapa belasan anak yatim, anak jalanan (anjal) dan kaum duafa. Upaya penyapaan mereka dibingkai dalam buka puasa dan sahur bersama. 

Buka puasa bersama 18 anak yatim dilakukan di Yayasan Pendidikan Sosial (YPS) Al-Ghozali, Prigen. Yayasan yang persis berada di lereng Prigen ini cukup jauh dari akses jalan raya. Namun, Cak dan Yuk Kabupaten tidak mempedulikan itu. Mereka tetap melangkah dan menghampiri si yatim dengan penuh kasih. 

"Even ini memang untuk menggugah empati dan rasa sosial kita kepada sesama. Apalagi, ini di bulan suci Ramadan. Sangat tepat bagi Cak dan Yuk untuk memulai aktivitasnya di bulan ini dengan peduli pada sesama," cetus Marlinda Hayati, pembina duta wisata Kabupaten Pasuruan didampingi Subiantoro, penjaga show room milik dinas Pariwisata. 

Sembilan Cak dan Yuk turut berpartisipasi. Mereka adalah, Cak Kabupaten 2008 Demitri Danang dan Yuk Novalia Kamalin Asri. Kedua Cak dan Yuk ini di-support rekan-rekannya. Yakni Cak Halim (finalis), Cak Zaini (wakil II), Cak Reza Ramdan Pahlevi (Favorit), dan Cak Ega Rizki (Harapan I). Lalu, Yuk Qasastia S. Paripurna (Favorit), Yuk Eka Novianti Anggraeni (Persahabatan), dan Yuk Wike Noviati (Wakil I).

"Ini sebenarnya inisiatif dan swadaya teman-teman agar ikut berbagi di bulan suci. Kami sebagai Cak dan Yuk ingin ikut merasakan sedikit dari apa yang mereka rasakan. Dan kami berharap di kemudian hari even yang kami lakukan jauh lebih baik," cetus Cak Danang usai menyapa para yatim. 

Sebelumnya, para anak yatim ini diberikan bingkisan oleh Cak dan Yuk. Para yatim merasa senang dan bangga bisa bertemu dengan wajah tampan dan cantik dari pilihan duta wisata Kabupaten ini. "Ya, senang saja," ujar Mohamad, salah satu anak yatim dari yayasan tersebut. 

Para Cak dan Yuk datang dengan atribut cukup lengkap. Hampir semuanya memakai selempang dengan tulisan sesuai status yang mereka sandang. Persahabatan yang mereka jalin juga terlihat begitu kompak. Kekompakan inilah yang kemudian membuat Camat Prigen Abdul Munif mencoba membangkitkan semangat mereka untuk beraktivitas yang lebih luas. 

"Saya kira, wilayah Prigen merupakan wilayah yang paling awal dikunjungi Cak dan Yuk Kabupaten saat memasuki bulan puasa ini. Ini sebuah kehormatan yang luar biasa bagi kami," tutur Camat Munif saat itu.

Munif juga meminta para Cak dan Yuk lebih bergairah untuk mempromosikan sarana wisata yang terbentang di Kabupaten Pasuruan. "Sebagai duta wisata, saya rasa hal yang paling mendasar yang harus dilakukan Cak dan Yuk adalah turut mempromosikan sarana wisata kita semua," katanya. 

Kabupaten Pasuruan, lanjut Munif, diberikan anugerah oleh Allah. Berupa wisata alam yang begitu indah. "Nah, tugas adik-adik semua adalah mempromosikan wisata yang kita punya ini ke orang luar agar diminati," tegasnya.

Camat Munif yang hadir dan menjadi imam salat Maghrib di YPS itu juga berusaha memberikan motivasi pada anak yatim di sana. "Jangan patah semangat wahai anakku. Semua yang ada di sini adalah keluarga kalian semua. Anak-anak harus tetap bersemangat dalam menimba ilmu di sini dan berprestasi," terangnya. 

Usai salat maghrib, Cak dan Yuk ikut bernostalgia dengan anak yatim dalam menikmati sajian menu buka puasa. Sesekali canda tawa si yatim meledak, ketika obrolan mereka menjurus pada pergurauan. 

Nostalgia serupa juga dilakukan pada anak jalanan (anjal) dan pada kaum duafa ketika sahur kemarin. Khusus sapaan ke anjal dan duafa, Cak dan Yuk tidak memfokuskan pada satu tempat. 
Read full story

Wednesday, September 3, 2008

masjid bawah tanah mojosari

0 komentar
Keunikan Masjid Bawah Tanah di Pekukuhan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto
Berawal sebagai Obat Stres, Kini Diminati Pengunjung Luar Kota
Masjid Agung Wisnu Manunggal di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto tergolong unik. Di bawah bangunannya yang megah itu terdapat bangunan musala-musala kecil yang fungsinya sama seperti sebuah masjid yang berada di bawah tanah. Bagaimana bentuknya?

MOCH. CHARIRIS - Mojosari

Masjid Agung Wisnu Manunggal yang terletak 12 kilometer dari arah Kota Mojokerto atau tepatnya di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, sekilas bangunan masjid tampak seperti masjid pada umumnya.

Namun, ada yang beda. Yakni, di bawah bangunan masjid terdapat lorong-lorong yang berfungsi sebagai tempat ibadah warga sekitar. Bahkan, tidak sedikit tamu dari luar kota yang singgah ke masjid tersebut. Berkontempelasi atas keagungan Sang Khaliq, ternyata tidak hanya dilakukan di masjid. Seperti halnya Ki Imam Malik, pengasuh Ponpes Sambung Sari, Desa Pekukuhan, Mojosari yang memiliki cara berbeda. Yaitu dengan membuat goa. Lorong-lorong goa sengaja dibuat untuk memperdalam kerohanian dan ketaukhidan sebagai media pensucian hati. Sebelum masuk lokasi masjid, terlebih dulu kita harus melewati sebuah gapura lorong sebagai pintu menuju masjid, yang berdiri di sebelah timur bangunan induk. Pintu itu tembus ke bangunan masjid di sebelah utara rumah induk. Di samping timur rumah induk juga terdapat sebuah lorong yang hanya bisa dilewati satu orang, yang langsung menuju ke dalam perut bumi dengan kedalaman 5 meter hingga 7 meter.

“Kami menamakan lorong ini dengan sebutan Goa Muhammad. Lorong yang mengantarkan kita kepada ketaukhidan,” ujar Imam Malik. Disebut “Goa Muhammad” karena memiliki kedalaman 7 meter. “Di bawah masjid ini memang sengaja dibangun sebagai media perenungan diri. Di lorong ini pula kami bersama para santri melakukan ritual kerohanian, termasuk ibadah salat lima waktu, berzikir, istighotsah, serta melakukan amalan ketaukhidan yang lain,” jelas Imam, panggilan Ki Imam Malik.

Itulah sebabnya hampir sepanjang dinding goa itu tertulis ratusan kalimah taukhid, seperti halnya lafad barjanji dan dziba’ yang terukir di dinding goa.

Dikatakan Imam, gua atau lorong di bawah masjid dibangun pada tahun 1995 oleh para santri pesantren bersamaan dengan pembangunan masjid, dan selesai pada tahun 1997. Saat masuk, pada lorong-lorong tidak sedikit pun terdapat cor beton yang terbuat dari semen. Bangunan itu hanya mengandalkan tanah pasir.

Lorong-lorong itu sengaja dibuat menuju ruang utama masjid dalam tanah. Dalam masjid tersebut kita akan melewati 7 sumur 2 sendang dan 5 musala. Dari masing-masing tempat tersebut diberi nama yang berbeda-beda. Seperti Pertapaan Pringgodani Lorong Kalimahsodo, Musala Peluru Sumur, serta Sendang.

“Biasanya para santri dan pengunjung mengambil air dari Sendang untuk dibawa pulang. Selain itu, di Sendang ini biasanya para santri melaksanakan meditasi,” papar Imam.

Setelah melalui lorong berkelok, baru kemudian memasuki ruang utama masjid bawah tanah yang terdiri atas tujuh pintu. Tujuh pintu atau lorong ini digunakan sebagai baris salat. Yaitu setiap pintu mampu menampung tujuh orang. Sehingga, sekali melaksanakan salat jamaah, masjid bawah tanah ini hanya mampu menampung 50 orang yang terdiri atas 49 makmum dan 1 sebagai imam.

Bangunan masjid di atas lorong terdiri atas dua lantai yang unik. Untuk membuat tingkat masjid, hanya menggunakan bambu sebagai penopang.

Sedangkan pada tiang ada yang terbuat dari ban bekas yang ditumpuk pada sisi luar masjid ini, dan terdiri atas tiga menara. “Salah satunya dinamakan Menara Bundar. Karena bentuknya yang bulat. Sedangkan untuk tempat wudhu terbuat dari ban yang ditumpuk bertuliskan huruf Arab,” ungkap Imam. Lebih jauh dia mengungkapkan, pada hari-hari tertentu biasanya masjid ini ramai dikunjungi umat muslim, seperti Bulan Suro dan malam Jumat Legi. Para pengunjung tidak hanya dari Mojokerto. Mereka juga datang dari beberapa kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Jember dan Banyuwangi.

“Padepokan ini awalnya sebagai tombo stres. Namun, karena ketenangannya, maka sering kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

Di tiap-tiap bagian pintu gerbang padepokan, termasuk pintu lorong yang menuju masjid bawah tanah, kerap ditemui tulisan bercorak huruf Jawa dan huruf Islam. Menurut Imam, hal itu dimaksudkan untuk menyatukan dua budaya yang berbeda. Yaitu perpaduan antara Islam dengan Budaya Jawa. “Tulisan Arab menggambarkan bahwa agama yang kita yakini adalah agama Islam. Sedangkan tulisan Jawa menggambarkan bahwa sejak lahir kita berpijak di tanah jawa,” ungkapnya. (*)

Sumber : Harian Jawa Pos
Read full story

masjid kuno mojosari

0 komentar
Masjid Tua Berusia 197 Tahun di Mojosari
Meskipun Dianggap Khas, namun Tak Lagi Digunakan untuk Salat Jumat
Nilai intrinsik selalu lekat dengan bangunan-bangunan kuno. Khususnya tempat-tempat ibadah yang kaya nilai sejarah. Sebagaimana yang bisa ditemui di Masjid Baitul Muslimin Kauman Utara Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Dinding bangunan masjid itu terlihat lelah menyangga. Menara yang terpancung di atas atap seakan tak kuat lagi menahan panasnya terik matahari. Sedari jauh fisik Masjid Baitul Muslimin Kauman Utara Mojosari memang sudah terlihat sangat tua. Walaupun tampak tetap kokoh, seakan terus ingin mengayomi orang-orang yang beribadah di dalamnya.

Meskipun fisik bangunannya tak semegah Masjid Jami Mojosari yang berada di sebelah utaranya, namun Masjid Kauman tetap menjadi jujukan warga untuk melaksanakan salat. Khususnya warga yang berasal dari luar kota.

Setiap saat di depan masjid tampak sejumlah kendaraan yang parkir. Mayoritas kendaraan tersebut milik warga luar kota yang ingin merasakan salat di masjid tua. Bukan hanya salat, beberapa di antaranya juga berlama-lama di dalam masjid untuk membaca Alquran maupun mengamalkan berzikir.

“Sejumlah orang terkadang juga datang untuk minum air sumur masjid tua,” kata Ustad Husein, salah satu takmir masjid. Sumur itu terletak di sebelah utara bangunan masjid. Tetapi, masih dalam pagar masjid. Konon, air sumur tersebut diyakini membawa berkah, hingga mampu menyembuhkan sakit peminumnya.

Sejumlah warga yang datang mengaku lebih khusyuk saat beribadah di dalam masjid tua. Baik menjalankan ibadah salat, membaca Alquran maupun berzikir. “Salat di sini rasanya berbeda dengan salat di masjid lain,” ungkap Ustadz Hamzah, salah satu imam masjid.

Husein menuturkan, sejumlah kiai dan qori kerap datang ke masjid tua. Umumnya mereka mengaku merasakan sesuatu yang khas saat berada di dalam masjid. “Mereka mengaku seakan lebih mantap dan khusyuk saat melakukan aktivitas di dalam masjid,” katanya.

Hal tersebut juga dirasakan sejumlah kiai yang memberikan ceramah. “Kiai Husein Trowulan saat ceramah di sini pernah menceritakan hal istimewa yang dirasakan saat di masjid tua,” ungkapnya.

Masjid itu dibangun oleh Habib Salim asal Hadramut Yaman sekitar tahun 1810. Di belakang masjid tersebut setidaknya ada lima makam. Makam paling tua adalah, Makam Mbah Selar. Konon, dia adalah teman Mbah Abbas, keturunan ke-15 Sunan Giri yang dulu merawat masjid tua. Mbah Abbas dimakamkan di Banyuwangi. Pengurus masjid tua sendiri saat ini adalah, keturunan Mbah Abbas tersebut.

Hanya, saat ini masjid tersebut tidak digunakan lagi untuk salat Jumat. Meskipun setiap hari tetap saja ada salat berjamaah di dalamnya. “Zaman Belanda dulu masih digunakan salah Jumat,” kata Husein.

Saat ini, aktivitas rutin di dalam masjid tersebut antara lain, aktivitas perkumpulan pengamal sejumlah wirid. Khususnya wirid yang diwarisi dari para pendiri masjid. Yakni wirid latif dan rotibul hadad karya Habib Abdullah Alwi al Hadad. Rasa khusyuk yang diperoleh di dalam masjid konon menjadi salah satu penarik warga untuk berburu Lailatul Qadar.

sumber ; radar mojokerto

Read full story

LARANGAN ROKOK

0 komentar
 Radar Mojokerto 
[ Selasa, 02 September 2008 ] 
Strategi Perusahaan Besar Menyikapi Karyawan Perokok 
Demi Lingkungan, Terapkan Sanksi PHK 

Terlepas dari wacana MUI yang bakal mengharamkan rokok, sejumlah perusahaan menganggap serius persoalan karyawan perokok. Sehingga, memberlakukan sejumlah kebijakan khusus. Mulai penyediaan smoking area (ruang khusus untuk merokok), hingga sanksi PHK. 

ROJIFUL MAMDUH, Mojokerto 

------------

SEBUAH asbak kaca tergeletak di atas meja dalam ruang tamu PT Ajinomoto Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Meskipun hawa dingin yang keluar dari AC terasa menyelimuti seluruh pori-pori. Sedikit mengempaskan udara panas yang sebelumnya terasa menyengat di luar ruangan. 

''Di sini memang karyawan tidak mutlak dilarang merokok," kata Slamet Lestari, humas PT Ajinomoto memecah suasana. Larangan merokok hanya diberlakukan pada beberapa area tertentu. Utamanya bagian-bagian yang berisiko tinggi terhadap rokok. 

''Tapi, kita tetap menyediakan smoking area," jelasnya. Sehingga, saat jam istirahat, karyawan perokok tetap bisa menyalurkan hasratnya di ruang tersebut. ''Di ruang ini, karena ada asbak, berarti boleh merokok. Namun, di luar sana, di jalanan dalam pabrik, dilarang keras merokok," ungkapnya.

Karena hal itu bisa sangat membahayakan. Apalagi, bila karyawan sampai membuang puntung rokok sembarangan. Selain itu, abu rokoknya mudah mengotori lingkungan sekitar, apabila merokok sambil jalan. ''Jadi, di sini, soal rokok, aturannya biasa-biasa saja," paparnya. Sehingga, tidak terlalu memberatkan 1.000 karyawan yang tidak tertutup kemungkinan sebagian besar di antaranya adalah perokok.

Berbeda dengan kondisi yang terlihat di PT Tjiwi Kimia. Sejak 18 Agustus kemarin, perusahaan kertas itu memberlakukan larangan merokok untuk seluruh karyawan. Baik karyawan internal pabrik sendiri maupun karyawan dari luar yang bekerja di pabrik. 

Aturan tersebut tertuang dalam perjanjian kerja bersama yang ditandatangani SPSI dan pengusaha pada saat upacara HUT ke-63 RI, Minggu (17/8). ''Untuk karyawan luar pabrik yang biasa dibawa pemborong, apabila tertangkap merokok, maka izinnya kita cabut. Sehingga, ia harus keluar dari pabrik," ujar Sugianto, humas PT Tjiwi Kimia.

Sedangkan untuk karyawan internal pabrik, mereka diharuskan menandatangani surat pernyataan tidak merokok dalam pabrik. Untuk security, mereka menyatakan bersedia di-PHK jika ketahuan merokok. ''Karena merekalah yang menjadi perangkat tindak untuk menegakkan aturan ini, sehingga harus lebih tegas," jelas Sugianto. 

Sedangkan untuk karyawan lainnya, mereka hanya menandatangani pernyataan siap mendapat Surat Peringatan (SP) ketiga atau terakhir apabila tertangkap merokok. ''Bahkan, bukan hanya saat tertangkap sedang merokok, saat tertangkap membawa rokok pun karyawan diberi surat tilang. Nanti HRD yang memutuskan sanksinya," papar Sugianto.

Penerapan aturan tersebut dilakukan secara berjangka. Dari kampanye sejak 10 Agustus melalui penyebaran stiker dan pamflet. ''Ada 30 ribu selebaran yang kita buat dan dibagikan di setiap pintu, sehingga tidak ada alasan karyawan tidak tahu," ungkapnya. 

Selain itu, di setiap sudut lokasi dipampang spanduk larangan merokok. Bahkan, dipintu masuk kantor juga terpampang bilboard yang berisi larangan merokok dalam tiga bahasa, Indonesia, China dan Inggris. Meskipun demikian, masih ada juga karyawan yang tertangkap sedang merokok, terutama sopir dan kernet. 

Larangan merokok diberlakukan dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya, karena semua yang terdapat dalam pabrik kertas itu rentan terhadap api. Juga mendukung program lingkungan hidup yang saat ini semakin digalakkan. 

Utamanya program pengurangan emisi udara. Apalagi, selama ini pabrik juga menerapkan sistem lima R dan satu W. Yaitu, ringkas, rapi, resik, rawat, rajin dan waspada. 

''Produktivitas juga meningkat," ujarnya. Karena waktu merokok dapat digunakan untuk bekerja. Dulunya, pada setiap divisi memang disediakan smoking area. Sehingga, setiap saat karyawan dapat merokok.

"Karyawan kita ada 13.000 orang. Tiga ribu di antaranya perempuan. Anggap saja yang merokok lima ribu karyawan laki-laki. Kalau dalam pabrik mereka merokok dua batang saja selama 10 menit, berapa waktu yang terbuang secara keseluruhan?" paparnya.

"Tentu saja dengan tidak adanya waktu yang terbuang itu, dapat mendongkrak produktivitas," ujar Sugianto.

Apalagi, semua komponen mendukung pemberlakuan kebijakan tersebut. Baik dari karyawan sendiri maupun pengusaha. Bahkan, program tersebut kini telah mendapat banyak apresiasi dari pihak luar,

meskipun belum genap sebulan dilaksanakan. Salah satunya dari Tee Che Heng, Direktur AON Global Risk Consulting Services. Sebuah perusahaan dalam bidang jasa konsultan asuransi yang berkedudukan di Singapura. (yr)
Read full story

BAYI GIZI BURUK

0 komentar
Radar Mojokerto 
[ Rabu, 03 September 2008 ] 
Empat Bulan, Berat 2,5 Kg 
Bayi Gizi Buruk asal Trowulan 

MOJOSARI- Masih ada penderita gizi buruk di Kabupaten Mojokerto. Adalah M. Dani Setyawan, 4 bulan, putra kedua pasangan Jupri, 37, dan Kasiati, 33, warga Dusun Prayan, Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang diduga mengalami gizi buruk. 

Kini, balita yang merupakan rujukan Puskesmas Tawangsari, Kecamatan Trowulan ini menjalani perawatan intensif di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari. Beratnya hanya 2,5 kg. Padahal, seharusnya berat ideal dengan usia 4 bulan mencapai 6,5 kg.

Kepada wartawan, dr Sony Tri A Kamil SpA yang menangani bayi Dani menyatakan, kondisi gizi buruk ini semakin parah dengan adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). 

Dikatakannya, pasien penderita gizi buruk ini sejak lahir akibat kelahiran yang prematur. Meskipun lahir secara prematur, sebenarnya pasien masih bisa memiliki berat badan yang normal apabila mendapatkan asupan gizi yang cukup. ''Rasio berat dan tinggi badan terhadap umur tidak normal. Berat normal bayi ini seharusnya 6,5 kg,'' ungkap dr Sony.

Minimnya asupan gizi yang cukup ini ternyata karena sejak lahir bayi Dani tidak pernah mendapatkan air susu ibu (ASI), karena susu ibunya yang tidak keluar. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, bayi yang lahir dari keluarga buruh tani ini hanya mendapatkan makanan seadanya. ''Kondisi ekonomi penyebabnya, juga pengetahuan orang tuanya yang minim,'' jelas dr Sony.

Sementara itu, terkait adanya pasien gizi buruk tersebut, Direktur RSUD Prof dr Soekandar Mojosari dr Tatid M. Ali menyatakan, pihaknya akan membebaskan biaya berobat bayi Dani. Meskipun keluarga ini tidak masuk dalam daftar keluarga miskin yang biaya pengobatannya dibiayai Jamkesmas. 

''Walaupun tidak mendapat Jamkesmas, akan dibiayai dana APBD. Ini sesuai dengan petunjuk bupati bahwa warga miskin atau kurang mampu yang tidak mendapat Jamkesmas, akan dibiaya APBD,'' jelas dr Tatid.

Untuk saat ini, tindakan medis yang akan dilakukan terhadap bayi Dani, kata dr Tatid adalah, mengobati ISPA serta memberikan asupan gizi yang cukup untuk meningkatkan pertumbuhannya. Termasuk memberikan tambahan gizi susu formula yang tepat. ''Yang patut diselamatkan adalah, menormalkan berat badannya terlebih dahulu, agar infeksi atau kelainan lain tidak menyertai,'' jelas dr Sony. (in/yr)
Read full story

Monday, September 1, 2008

Ruwahan

0 komentar
Ruwahan
Dalam tradisi Jawa ada kebiasaan "ruwatan". Pada kesempatan itu, banyak orang pergi ke makam untuk membersihkan batu nisan dan memanjatkan doa bagi keselamatan orang yang telah meninggal.

Di makam, orang akan berusaha memperkenalkan suadara-saudara maupun teman-teman yang sudah meninggal kepada orang yang diajaknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh sebuah keluarga kecil ini.

"Ini makamnya nenek Ibu dan sebelahnya itu makam kakeknya ayah," kata si Ibu kepada anak laki-laki satu-satunya.

"Kalau yang itu, Bu?" tanya si anak.

"Makam teman ayah!" jawab ibu.

"Kalau yang di pojok itu, Yah?" tanya si anak kepada ayahnya.

"Itu makam seorang pejuang yang meninggal terkena pecahan peluru pada saat kita masih dijajah Jepang dulu!" jawab Ayah.

"Juga saudara?" tanya si anak penasaran.

"Ya, dia itu masih 'pakde'-nya 'oom'-nya ibumu!"

"Eh lihat!! Bu Tuminem juga ke makam!" si anak berseru sambil menunjuk pada seorang ibu.

"Siapa dia, Nak?"

"Tetangga kita di seberang jalan, masih hidup. Lho, ayah dan ibu tidak mengenalnya?"

"??!!" (ahm)
Read full story

Kepala Batu Presiden

0 komentar
Kepala Batu Presiden

Sudah lama kalangan dekat Gus Dur mengenalnya sebagai orang yang keras kepala. Apa yang ia yakini pasti akan dilakukannya, tak peduli setajam apapun masyarakat mengkritiknya.

Pernah, tutur Jaya Suprana, Gus Dur menunjukkan cincin bermata zamrud kepadanya. Jaya, pakar "Kelirumologi" yang sudah lama berteman akrab dengannya, tahu bahwa Gus Dur kurang suka pada batu-batuan seperti itu. Namun Gus Dur tetap mengenakan cincin pemberian orang itu.

Menurut Jaya, Gus Dur mau memakai cincin tadi sekadar ingin menghormati si pemberi, sebab dia sebenarnya tak terlalu menyukainya. Tapi mengapa Gus Dur tak suka pada batu-batuan?

Jaya tahu jawabannya: "Ya mana mungkin Gus Dur mengoleksi batu. Wong kepada Gus Dur saja sudah seperti batu." (ahm)
Read full story

Tak Bisa Membedakan

0 komentar
Tak Bisa Membedakan

Seekor babi hutan dari pedalaman Timika di Papua lari ketakutan menyeberangi perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Ia merasa diburu-buru tentara Indonesia. Ia baru berhenti ketika ada seekor babi hutan Papua Nugini menyatakan bahwa ia sudah berada dalam wilayah Papua Nugini.

"Mengapa Anda berlari?" tanya babi Papua Nugini.

"Terus terang saya khawatir pada tentara Indonesia. Mereka mengebiri semua laki-laki di sana," ujar babi Indonesia.

"Tapi anda 'kan bukan manusia. Anda kan cuma seekor babi hutan?"

"Justru itulah. Mereka mengebiri dulu baru bertanya kemudian," ujar babi Indonesia. (ahm)
Read full story

Becak, Dilarang Masuk

0 komentar
Becak, Dilarang Masuk
Saat menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu "Becak dilarang masuk". Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

"Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini," bentak Pak polisi. "Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk," jawab si tukang becak.

"Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk," bentak Pak polisi lagi.

"Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini," jawab si tukang becak sambil cengengesan. (ahm)
Read full story

Bocoran Cawapres Gus Dur

0 komentar
Bocoran Cawapres Gus Dur

Sebelum acara silaturrahmi dan sambung rasa DPP PKB-Tokoh NU di Jakarta, wartawan mendapat kesempatan tanya jawab dengan kandidat Presiden dari PKB, Gus Dur.

"Bagaimana kriteria wapres Gus Dur?"
"Seorang birokrat yang bukan politisi dan militer," jawab Gus Dur.

Seperti mendapat 'angin' wartawan-wartawan kita mengajukan berbagai nama, dengan harapan diiyakan Gus Dur dan besoknya mungkin jadi headline "Si Anu Calon Wapres Gus Dur".

Tapi Gus Dur dengan cekatan menampik membeberkan nama orang yang digadang-gadangkan jadi Cawapresnya. "Nanti dong, pemilihannya juga belum," katanya menolak.

Bukan wartawan kalau langsung menyerah, apalagi semua kuli tinta sudah paham "tabiat" Gus Dur jika berhadapan dengan Pers, "tak ada rahasia untuk publik" mungkin begitu mottonya Gus Dur. (Walau Gus Dur punya petuah dari bahasa Arab yang selalu dipatuhinya dalam berpolitik "Simpanlah rahasiamu karena itu adalah senjatamu").

Kenyataannya Gus Dur tetap menolak, bahkan wartawan memberikan "penawaran": "Inisialnya deh Gus atau kalau enggak panggilannya juga boleh."

Gus Dur cuma mesem-mesem, wartawan pun patah arang, lalu merekapun mengkandangkan alat perekam masing-masing. Namun ketika semua sudah menyerah, Gus Dur menukas, "Oke panggilannya aja ya." Kontan semua wartawan kembali serius ke posisi merekam, dan dengan antusias bertanya "Siapa Gus? Siapa Gus?"

Dengan "jujur" Gus Dur membeberkan rahasianya, "Panggilannya Mas."

Para peliput pun ngakak setelah "dikerjain" Gus Dur. (ahm)
Read full story

MINIBIOGRAFI GUS DUR

0 komentar
MINIBIOGRAFI GUS DUR
Abdurrahman "Addakhil", demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, "Addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru". Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur.
Read full story

SEPAK BOLA RICUH

0 komentar
PSMP Mojokerto V Persiram Raja Ampat Ricuh
Pengirim: Anjas Septian Ramadani - detikSurabaya



Foto: Anjas
Mojokerto - Pertandingan 8 besar divisi I yang berlangsung di Stadion Gajah Mada Mojosari antara PSMP Kabupaten Mojokerto dan Persiram Raja Ampat Irjabar berlangsung ricuh.

Pemicu kejadian karena pemain Persiram Raja Ampat melakukan pelanggaran terhadap pemain PSMP,tidak terima ofisial PSMP Masuk ke lapangan dan ini yang membuat kubu Persiram Raja Ampat juga melakukan protes karena menganggap official PSMP melakukan pemukulan.

Bahkan pemain pemain persiram raja ampat menghujani pukulan manager MP yang dianggap memukul pemain persiram,pemain persiram shanun alqodari juga bersimbah darah akibat kericuan tersebut.

Pertandingan dilanjutkan kembali setelah Manager PSMP Ayub Busono diamankan oleh petugas keluar lapangan.Pertandingan sendiri dimenangkan 1-0 untuk PSMP melalui Pemain nomor 29 Beni Hertanto pada menit 8 babak pertama. (anjas_rmjk@yahoo.co.id)(gik/gik)
Read full story

bertani kota

0 komentar
Radar Malang
[ Senin, 01 September 2008 ]
Bertani di Tengah Kota


Keluarga di Bakalan Krajan ini sukses menekuni pertanian di perkotaan. Sejumlah inovasi mereka kembangkan, termasuk memproduksi padi organik. Hasilnya pun tidak langsung dijual, tapi dijadikan beras dan dikemas dengan merek Oges, yang bahasa Malang-nya berarti sego atau nasi. Bisa juga berarti Organik Enak dan Sehat.

---------------------------------------------------------------------------------

Eksis menjadi petani di perkotaan bukanlah hal gampang. Dituntut mampu melawan gencarnya laju modernisasi yang mengikis secara perlahan tempat berproduksi. Selain itu, petani perkotaan dituntut mencari "resep jitu" guna mempertahankan sekaligus mengembalikan tingkat kesuburan tanah yang sudah banyak berkurang akibat pencemaran tanah oleh limbah rumah tangga atau pabrik.

Di Kota Malang, ada petani yang sudah 33 tahun lebih konsisten mendedikasikan dirinya pada bidang pertanian di perkotaan. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir, dia berjuang membudidayakan tanaman padi organik yang memiliki kandungan gizi serta vitamin lebih sempurna dibandingkan padi yang diproses dengan cara biasa. Untuk di Kota Malang, ia satu-satunya petani padi organik.

Yahmo namanya. Pria berusia 57 tahun ini mampu menjadi contoh sekaligus inspirator bagi ratusan petani di Kota Malang untuk tetap eksis menekuni pekerjaan yang mulai terkikis oleh waktu itu. Kakek kelahiran Malang 19 Mei 1951 lalu ini menekuni pertanian padi organik di sekitar tempat dia tinggal, Jl Pelabuhan Tanjung Perak 19, RT 03 RW 02, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun.

Total lahan pertanian yang dikelolah Yahmo seluas tiga hektare. Rinciannnya, lahan seluas satu hektare miliknya sendiri berada di Jl Pelabuhan Bakahuni, RW 01 Bakalan Krajan. Lalu satu hektare lagi ada di wilayah RW 02, menyewa tanah bengkok milik kelurahan. Satu hektare lagi juga lahan sewa milik perorangan, berada di wilayah RW 02. Ongkos sewa per tahun untuk bengkok Rp 3,5-4 juta. Sedangkan milik orang lain Rp 6 juta per tahun. Dari lahan seluas itu, lahan yang ditanami padi organik seluas dua hektare. Satu hektare ia tanami padi yang diolah dengan cara biasa. Tujuannya hanya sebagai pembanding.

Ditemui di rumahnya Kamis (28/8) siang, Yahmo baru saja pulang dari sawah. Dia langsung mempersilakan Radar masuk ke ruang tamu. "Maaf Mas, nunggu lama ya. Baru saja mengontrol aliran air ke sawah,'' katanya.

Yahmo mengawali pekerjaan tani sejak 1976. Kala itu petani di Kota Malang masih banyak. Namun, khusus padi organik, pria bertubuh kurus ini menekuninya sejak 2006 lalu. Awalnya dia menanam jamur merang dengan pola pemeliharaan menggunakan pupuk organik. "Saat itu saya memakai pupuk kandang kotoran sapi milik beberapa warga yang dibuang di halaman belakang rumah. Kotoran itu saya kumpulkan lalu diolah menggunakan obat khusus yang saya peroleh dari sebuah toko pertanian," tuturnya.

Hasil panen jamur merang saat itu berhasil dan layak dilanjutkan. Mulai sejak itu, dia percaya bahwa pupuk kandang bisa memberikan hasil maksimal untuk produk pertanian.

Sayangnya, meski hasil tanam memuaskan, namun kendala pemasaran hasil tanam menghadangnya. Ratusan kilogram jamur merang gagal dilempar di pasaran karena minimnya pengetahuan soal pemasaran jamur merang. Akibatnya, jamur merang dijual murah hingga akhirnya mengalami rugi besar.

Kegagalan itu ia jadikan pelecut untuk terus berusaha. Yahmo membuat inovasi lain dengan cara menanam padi organik. Terhitung sejak akhir 2006 hingga 2008 ini, ia sudah panen dua kali. Sedianya jika tidak ada kendala, September akhir, dia bakal panen untuk yang ketiga.

Sebelum berhasil seperti sekarang, saat pertama menanam padi organik, banyak petani lain yang mencemoohnya. "Katanya ada cara gampang mengolah lahan pertanian kok repot-repot cari cara yang sulit dan ribet. Apalagi apa yang saya lakukan, menurut mereka, masih coba-coba,'' kata Yahmo menirukan ejekan petani lainnya.

Ada yang cuek, ada juga petani yang berkonsultasi soal penanaman padi organik kepadanya. Yahmo melihat sikap cuek iu muncul disebabkan modal yang besar jika menanam dengan cara organik. Penggunaan pupuk kandang memang butuh biaya tinggi. Biaya itu bukan untuk pembelian pupuk, melainkan biaya pemupukan yang membutuhkan jumlah pekerja lebih banyak. Untuk pupuk kandang padat, teknik pemberian ke tanaman harus disebar. Namun, jika pupuk kandang cair, harus disiramkan menggunakan mobil tangki khusus. "Nah untuk menabur dan menyiramkan ke tanaman inilah, butuh pekerja lebih banyak ketimbang menggunakan pupuk kimia tabur atau semprot. Perbandingan perbedaan jumlah pekerja mencapai 3:6 orang untuk satu hektare lahan,'' urai Yahmo.

Artinya, untuk satu hektare lahan padi organik, dibutuhkan enam pekerja. Sedangkan untuk padi non-organik hanya cukup tiga orang saja. Kebutuhan pekerja pada prinsipnya dilihat sesuai dengan kebutuhan. Jika musim tanam dan panen jumlahnya bisa banyak. Namun, jika perawatan, butuh pekerja sekitar enam orang.

Dijelaskan, pupuk kandang cair dia peroleh dari rumen (isi lambung sapi yang disembelih). Cairan makanan dalam lambung tersebut dia peroleh dari pengiriman limbah pembantaian hewan ternak di sejumlah daerah di Kota Malang dan Kabupaten Malang. "Rumen tidak saya beli, namun diproleh gratis dari lokasi pembantaian tersebut dan hanya mengganti uang pengiriman. Satu truk rumen diganti uang pengiriman Rp 50 ribu,'' katanya. Setelah melalui tahap penyaringan, cairan rumen ini dimasukkan ke tangki mobil dan disiramkan ke tanaman.

Semetara pupuk kandang padat diperoleh dari kotoran sapi yang dikeringkan dengan cara vermentasi. Kotoran sapi dia peroleh dengan memanfaatkan limbah ternak di Gondanglegi. Kotoran itu dikeringkan di udara terbuka minimal empat hari, lalu disiram dengan bakteri khusus untuk penghilang bau. Yakni decomposer spectagro super degro kemasan satu liter. Hanya satu liter obat bakteri pengurai bisa digunakan untuk campuran satu ton kotoran ternak. "Dari proses yang sudah dilakukan sejak sebulan lalu ini, saya sekarang memiliki stok pupuk siap pakai dua ton,'' imbuhnya.

Saat itu, persepsi petani tentang bercocok tanam masih sederhana dan kurang inovatif. Mereka masih senang dengan cara sederhana yang cenderung simpel dan cepat mendatangkan hasil. Padahal, jika mau bersabar sedikit, bukan hanya kuantitas dalam jumlah banyak yang bakal diperoleh, namun juga kualitas panen yang menjanjikan. Misalnya dalam penggunaan pupuk kimia, mereka kerap beranggapan banyak pupuk bakal mendatangkan hasil yang memuaskan.

Padahal, kenyatannya, dengan penggunaan pupuk yang melebihi takaran yang telah ditentukan bisa berakibat mengurangi tingkat kesuburan tahan. Untuk mengurai kesuburan tanah, sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Sebaliknya, jika menggunakan pupuk organik, kualitas tanah semakin lama semakin subur. Penggunaan pupuk organik juga bisa menghemat biaya produksi tanam. Sebab, pupuk kandang jauh lebih murah dibandingkan pupuk kimia.

Tidak hanya itu. Pemakai pupuk kandang tak perlu khawatir terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi. "Petani bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan kelangkaan pupuk kerap terjadi,'' ujarnya.

Menurut Yahmo, peggunaan pupuk kandang sejak dini juga sekaligus sebagai langkah antisipasi pencabutan subsidi pupuk oleh pemerintah yang ditargetkan pada 2009-2010 mendatang. Jika subsidi dicabut, harga per kuintal bisa Rp 190 ribu. Sekarang, karena subsidi, harga satu kuintal Rp 125 ribu.

Karena masih dalam taraf uji coba, hasil panen perdananya kurang bagus. Mengalami penurunan hingga 25 sampai 40 persen. "Menurut aturan, panen padi organik seluas satu hektare bakal menghasilkan gabah basah sembilan ton. Namun kenyataannya hanya memperoleh lima ton,'' katanya.

Berawal dari itulah, Yahmo melakukan sejumah inovasi. Salah satunya mengubah komposisi pupuk yang awalnya cair menjadi padat pada musim tanam kedua. Sayangnya, hasilnya juga kurang memuaskan. Bahkan ludes karena terserang hama tikus.

Inovasi kembali dilakukan pada musim tanam ketiga kali ini dengan menanam bibit unggul yang dia beli dari Karawang dan Sragen. Bibit padi unggul ini diketahui memiliki produksi lebih banyak.

Panjang maleh (satu tangkai padi) bisa dua kali lipat daripada bibit padi biasanya. Selain jumlah maleh yang lebih banyak, juga potensi butiran hampa pada setiap buliran padi di maleh jauh lebih kecil. Lainnya adalah menerapkan standar operasional penanaman lebih jelas dan tegas. Termasuk pemberian pupuk terjadwal dan pengendalian hama.

Dari inovasi itu, Yahmo menargetkan panen ketiga ini bisa mencapai 12 hingga 15 ton per hektare. Padahal normalnya hanya sekitar 7 sampai 9 ton. Sejauh ini, Yahmo mengaku optimistis jika rencananya tercapai karena hasil terakhir menunjukkan keberhasilan. "Maleh sudah panjang dan berisi. Insya Allah, sebelum Lebaran, bisa panen,'' katanya.

Melalui bertani, suami Sri Ba'atun, 55, ini mampu mengantarkan ketiga anaknya, yakni Sugeng Cahyo Purnomo, 33; Ruly Istanto, 30; dan Nanang Hadi Atmoko, 23, menjadi sarjana. Sugeng lulus ITN sebagai sarjana teknik, Ruly lulus dari UMM sebagai sarjana peternakan, dan Nanang sarjana ilmu sosial FISIP Unmer.

Dari ketiga anaknya, Yahmo berhasil mengajak Nanang menekuni pertanian. "Ya, saya turut bangga karena anak saya mau perhatian terhadap pekerjaan ayahnya kendati dia (Nanang) lulusan ilmu sosial,'' ujar Yahmo.

Sebagai kepala keluarga, Yahmo tidak bersikap otoriter. Misalnya memaksa anak-anaknya agar ada yang bersedia menjadi petani. Dia juga tidak meminta anaknya mau membantunya dalam bidang pertanian. Kepada anak-anaknya, Yahmo selalu berpesan agar semua pekerjaan harus ditekuni dengan dasar senang. Jika dipaksa, akibatnya fatal.

Nanang, yang menemani ayahnya, mengaku terpanggil ikut jejak ayahnya sebagai petani ketika telah puas mencoba bekerja di luaran. Yang ia rasakan, menjadi pekerja yang tidak memiliki kemampuan dan keahlian sangat kecil kemungkinan untuk sukses.

Setelah lulus, pemuda lajang ini sempat menjadi manajer cabang studio foto di Banyuwangi. "Keren memang jabatan yang saya pegang. Namun saya rasa tidak ada kepuasan dengan batin saya," aku Nanang.

Enam bulan menekuni pekerjaan itu, Nanang mengaku tidak kerasan dan pilih balik ke Malang. Setibanya di Malang, mata hatinya baru terbuka dan akhirnya bersedia terjun ke dunia pertanian yang selama ini digeluti ayahnya. "Saya sadar dari bertani ini, saya bisa menjadi sarjana. Dan sekaranglah waktunya untuk membantu orang tua,'' ungkapnya.

Beralih pekerjaan ikut ayahnya ke sawah sempat menuai cemooh dari saudara serta tetangga. Mereka menyayangkan mengapa harus melepas pekerjaan sebagai manajer. Kendati demikian, Nanang tetap tegar. Dia bisa memberikan penjelasan nyata kepada setiap orang yang mencibirnya. "Saya mau buktikan, meski jadi petani, saya bisa suskes,'' tegasnya.

Yang dia amati selama ini, ayahnya kaya akan praktik namun kurang dari segi teori terapan pertanian. Nanang merespons dengan orientasi ke sejumlah lembaga pendidikan, termasuk mengupayakan tanah milik ayahnya untuk melakukan tes kesuburan tanah di laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Upaya lain, mencari bibit unggul ke sejumlah daerah seperti Sragen dan Karawang. "Itu semua saya lakukan dengan teman-teman sevisi dan biaya sendiri. Bukan biaya pemerintah," kata dia.

Gagasan terbaru dari Nanang adalah menciptakan pabrik pupuk organik. Sebulan lalu, gagasan ini sudah dia lakukan di sebuah desa di Gondanglegi. Di lokasi itu terdapat cukup banyak limbah hewan ternak yang tidak dimanfaatkan. "Oleh pemiliknya, kami diperbolehkan menanfaatkan gratis. Tidak ditarik biaya,'' ujar Nanang.

Karena terlalu banyaknya, kini dia kesulitan mendapatkan lokasi penampungan limbah dan hasil pupuk yang telah diolah. "Saya optimistis prospek usaha pengolahan pupuk organik ini sukses karena keunggulannya tak diragukan lagi untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian,'' paparnya.

Demikian juga tentang semakin sempitnya lahan pertanian di perkotaan. Nanang memberikan pandangan kepada ayahnya agar tidak kolot dan terus mempertahankan lahan pertanian. ''Dipahami dampak urbanisasi akan terus dirasakan warga kota. Di antaranya naiknya kebutuhan pemukiman sehingga menyempitnya lahan pertanian. Kami sebagai warga kota tak mampu membendungnya,'' urai Nanang.

Langkah bijak yang harus dilakukan adalah mencari lahan alternatif di wilayah kabupaten yang lokasinya tak jauh dari rumah. Apalagi produktivitas tanah di perkotaan untuk bertani juga buruk. Untuk diketahui, sawahnya sudah pernah pindah tiga kali karena dibeli pengembang perumahan. Pertimbangan yang mendasari adalah produktivitas tanah sudah jelek.

Tidak seperti kebanyakan petani lain yang menjual gabah, Yahmo dibantu Nanang mengemas sendiri padi organiknya. Nanang membuat terobosan dengan menjual beras organik dalam kemasan 5 kg. Beras itu ditempatkan dalam wadah plastik dan diberi tulisan "Oges". "Nama ini saya ambil dari nama khas Malang yang berarti sego atau nasi. Dan jika dibuat singkatan, artinya Organik Enak dan Sehat," katanya.

Dia berobsesi Oges bisa menjadi salah satu hasil pertanian khas dari Kota Malang. Hingga sekarang, Nanang dan ayahnya telah membuat konsep pemasaran beras organik yang menguntungkan bagi mereka. "Saya berharap petani menjadi penguasa atas semua sistem produksi sekaligus distribusi sehingga petani tidak bakal menjadi objek permainan para tengkulak yang bisa memainkan harga padi seenaknya. Dengan sistem ini, niscaya petani bisa lebih merdeka," tandasnya. (mardi sampurno/yn)
Read full story
 

My Blog List

Hello

SUARA MOJOSARI ONLINE © 2008 Business Ads Ready is Designed by Ipiet Supported by Tadpole's Notez